logo-raywhite-offcanvas

21 Aug 2026 NEWS 9 min read
Kenapa Jakarta Selalu Banjir Tiap Tahun

Kenapa Jakarta Selalu Banjir Tiap Tahun

Banjir Jakarta seolah menjadi persoalan yang terus berulang setiap tahun. Ketika musim hujan datang dan hujan turun dengan intensitas tinggi, sejumlah wilayah di ibu kota kembali menghadapi genangan hingga banjir. Jalan tidak bisa dilalui, kendaraan terjebak, rumah warga terdampak, dan aktivitas sehari-hari pun ikut terganggu.

Pertanyaannya, kenapa Jakarta selalu banjir tiap tahun? Apakah penyebabnya hanya karena hujan deras?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu. Banjir di Jakarta merupakan persoalan yang terjadi karena banyak faktor yang saling berkaitan. Curah hujan tinggi memang menjadi salah satu pemicu, tetapi kondisi sungai, sistem drainase, perubahan tata guna lahan, penurunan muka tanah, hingga banjir kiriman dari wilayah sekitar Jakarta juga ikut berpengaruh.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menjelaskan bahwa risiko banjir Jakarta dipengaruhi oleh beberapa kondisi sekaligus, termasuk hujan dari wilayah Jabodetabek yang alirannya bermuara ke Jakarta, hujan lokal, serta pasang laut.  Lantas, apa saja yang membuat banjir Jakarta terus berulang?

Hujan Deras Bukan Satu-Satunya Penyebab

Ketika membicarakan banjir Jakarta, hujan deras biasanya menjadi hal pertama yang muncul dalam pikiran. Memang, hujan dengan intensitas tinggi dapat membuat volume air meningkat dalam waktu singkat. Masalahnya, air dalam jumlah besar tersebut membutuhkan tempat untuk mengalir dan meresap. Jika saluran air tidak mampu menampung debit air, sungai sudah penuh, dan permukaan tanah tidak banyak yang bisa menyerap air, genangan pun lebih mudah terjadi.

BMKG mencatat bahwa perubahan cuaca dan iklim juga perlu diperhatikan dalam melihat risiko banjir. Bahkan, perubahan iklim dapat membuat kejadian cuaca ekstrem menjadi salah satu tantangan yang semakin penting dalam pengelolaan kota.  Artinya, hujan memang menjadi pemicu, tetapi tingkat keparahan banjir sangat bergantung pada bagaimana Jakarta dan wilayah di sekitarnya mampu mengelola air tersebut.

Jakarta Berada di Wilayah yang Rendah

Salah satu alasan Jakarta cukup rentan terhadap banjir adalah kondisi geografisnya. Sebagian wilayah Jakarta berada di dataran rendah, terutama kawasan yang dekat dengan pesisir. Air secara alami akan bergerak dari wilayah yang lebih tinggi menuju wilayah yang lebih rendah. Kondisi ini membuat Jakarta menerima aliran air dari wilayah yang berada di bagian selatan dan sekitarnya.

Ketika hujan deras terjadi di kawasan hulu, air kemudian mengalir melalui sungai menuju wilayah yang lebih rendah. Jika debit air yang datang terlalu besar, sungai tidak mampu menampung seluruhnya. Akibatnya, air dapat meluap dan masuk ke kawasan permukiman. Situasi tersebut membuat banjir Jakarta tidak selalu disebabkan oleh hujan yang turun tepat di dalam kota. Hujan di wilayah sekitar juga dapat memberikan pengaruh besar terhadap kondisi Jakarta.

Ada Banjir Kiriman dari Wilayah Sekitar

Istilah banjir kiriman cukup sering terdengar ketika Jakarta mengalami banjir. Sederhananya, banjir kiriman terjadi ketika air hujan dari daerah hulu mengalir menuju daerah yang lebih rendah melalui sungai atau saluran air.

Jakarta menjadi salah satu wilayah yang menerima aliran tersebut karena berada di bagian hilir dari sejumlah sistem sungai. Ketika hujan deras terjadi di wilayah hulu, volume air yang masuk ke sungai dapat meningkat. Jika pada saat yang sama Jakarta juga diguyur hujan, beban sistem pengendalian air menjadi semakin besar.

Inilah mengapa persoalan banjir Jakarta tidak bisa diselesaikan hanya dengan melihat kondisi di dalam wilayah kota. Pengelolaan air perlu dilakukan secara lebih luas dengan memperhatikan kawasan hulu, sungai, daerah aliran sungai, hingga wilayah pesisir.

Sungai Tidak Selalu Mampu Menampung Air

Sungai memiliki fungsi penting untuk mengalirkan air menuju wilayah hilir dan akhirnya ke laut. Namun, sungai memiliki kapasitas tertentu. Ketika jumlah air yang masuk lebih besar daripada kapasitasnya, air berpotensi meluap.

Masalah tersebut dapat semakin berat ketika terjadi sedimentasi atau pendangkalan sungai. Sedimen yang menumpuk dapat mengurangi ruang yang tersedia untuk menampung air.

Selain itu, kondisi sungai juga berkaitan dengan lingkungan di sekitarnya. Pembangunan yang terlalu dekat dengan sungai, penyempitan badan sungai, serta keberadaan sampah dapat mengganggu fungsi aliran air.

Kementerian Pekerjaan Umum juga telah lama mencatat bahwa urbanisasi, alih fungsi lahan, permukiman di bantaran sungai, penurunan muka tanah, serta sampah di drainase dan sungai merupakan sejumlah faktor yang meningkatkan kerentanan banjir Jakarta. 

Sistem Drainase Kota Juga Berpengaruh

Coba bayangkan ketika hujan turun deras di sebuah kota. Air seharusnya masuk ke selokan, kemudian mengalir melalui jaringan drainase dan diteruskan menuju sungai atau sistem pengendalian air lainnya.

Namun, jika saluran air tidak mampu menampung debit air, air akan mencari tempat lain. Jalan, halaman rumah, hingga kawasan permukiman akhirnya bisa tergenang.

Masalah drainase tidak hanya berkaitan dengan ukuran saluran. Kondisi saluran juga perlu diperhatikan. Sampah, lumpur, sedimentasi, dan saluran yang rusak dapat menghambat aliran air.

BMKG menjelaskan bahwa kawasan perkotaan dengan banyak permukaan tertutup seperti aspal dan beton juga memiliki kemampuan resapan yang lebih rendah. Akibatnya, air hujan lebih cepat mengalir di permukaan dan dapat memperbesar risiko genangan.

Karena itu, memperbesar atau memperbaiki drainase saja tidak selalu cukup. Sistem drainase perlu dirancang bersama dengan ruang terbuka hijau, area resapan, kolam retensi, pompa, dan berbagai infrastruktur pengendalian air lainnya.

Penurunan Muka Tanah Membuat Jakarta Semakin Rentan

Salah satu persoalan Jakarta yang tidak kalah penting adalah penurunan muka tanah atau land subsidence.

Secara sederhana, penurunan muka tanah berarti permukaan tanah perlahan-lahan turun. Kondisi ini tentu menjadi masalah besar bagi kota yang sebagian wilayahnya berada di dataran rendah dan dekat dengan laut.

Kementerian Pekerjaan Umum mencatat bahwa Jakarta pernah mengalami penurunan muka tanah sekitar 5–12 sentimeter per tahun pada sejumlah lokasi. Pengambilan air tanah secara berlebihan menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap persoalan tersebut, selain beban bangunan dan proses pemadatan tanah. 

Ketika permukaan tanah semakin rendah, air menjadi lebih sulit dialirkan secara alami. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kawasan pesisir terkena banjir rob. Dengan kata lain, persoalan banjir tidak hanya tentang berapa banyak air yang turun dari langit, tetapi juga tentang kondisi tanah tempat air tersebut berada.

Penggunaan Air Tanah Ikut Menjadi Persoalan

Pengambilan air tanah merupakan salah satu isu yang berkaitan erat dengan penurunan muka tanah. Di wilayah perkotaan, air tanah selama bertahun-tahun digunakan untuk berbagai kebutuhan. Ketika pengambilannya terlalu besar dan tidak diimbangi dengan pengelolaan sumber air yang baik, kondisi tanah dapat terdampak.

Pemerintah pun terus mendorong pengendalian penggunaan air tanah dan pengembangan sumber air alternatif sebagai bagian dari upaya mengurangi penurunan muka tanah.

Persoalan ini tentu tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Diperlukan perubahan kebijakan, pembangunan infrastruktur air bersih, serta kesadaran masyarakat dan pelaku usaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.

Berkurangnya Area Resapan Air

Kota yang terus berkembang membutuhkan lahan untuk perumahan, gedung perkantoran, jalan, pusat perbelanjaan, dan fasilitas lainnya. Namun, pembangunan yang terlalu banyak menggunakan permukaan beton dan aspal dapat mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air.

Bayangkan air hujan yang jatuh di taman atau tanah kosong. Sebagian air dapat masuk ke dalam tanah. Berbeda jika air tersebut jatuh di permukaan beton atau aspal. Air akan lebih banyak mengalir di permukaan dan masuk ke saluran drainase.

Jika ruang terbuka hijau dan daerah resapan semakin sedikit, jumlah air yang harus ditangani oleh sistem drainase pun meningkat. Karena itu, penataan kota perlu memperhatikan keseimbangan antara pembangunan dan kebutuhan ruang untuk air.

Sampah Bisa Memperparah Kondisi Banjir

Sampah mungkin terlihat seperti persoalan kecil jika dibandingkan dengan hujan deras atau meluapnya sungai. Namun, ketika sampah menumpuk di selokan dan saluran air, dampaknya bisa cukup besar. Saluran yang seharusnya menjadi jalur air justru terhambat. Air akhirnya tertahan dan meluap ke jalan maupun permukiman.

Persoalan sampah juga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga saluran air tetap bersih. Membuang sampah ke sungai atau selokan mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang, dampaknya dapat menjadi persoalan besar bagi lingkungan.

Banjir Rob Mengancam Wilayah Pesisir

Selain banjir akibat hujan dan luapan sungai, Jakarta juga menghadapi ancaman banjir rob.Banjir rob terjadi ketika air laut masuk ke wilayah daratan, terutama ketika kondisi pasang tinggi. Kawasan pesisir Jakarta menjadi lebih rentan karena letaknya yang rendah dan adanya persoalan penurunan muka tanah.

Perubahan iklim dan kenaikan muka air laut juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam jangka panjang. BMKG menjelaskan bahwa risiko rob dapat semakin besar ketika kenaikan muka air laut bertemu dengan penurunan muka tanah di wilayah pesisir.  Karena itu, penanganan banjir Jakarta tidak cukup hanya berfokus pada sungai dan hujan. Kawasan pesisir juga membutuhkan perlindungan dan perencanaan yang sesuai dengan kondisi lingkungan.

Lalu, Bagaimana Cara Mengurangi Banjir Jakarta?

Mengurangi banjir Jakarta tentu bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah, masyarakat, pengembang, hingga berbagai wilayah di sekitar Jakarta perlu bekerja sama.

Dari sisi pemerintah, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pengendali banjir perlu terus dilakukan. Drainase harus dirawat, sungai perlu dijaga kapasitasnya, pompa harus berfungsi dengan baik, dan sistem peringatan dini perlu dikembangkan.

BMKG sendiri menekankan pentingnya sistem peringatan dini dan tata ruang yang lebih adaptif terhadap risiko bencana. 

Di sisi lain, penanganan kawasan hulu juga penting. Daerah resapan harus dilindungi agar air hujan tidak seluruhnya mengalir dengan cepat menuju Jakarta.

Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan tidak membuang sampah sembarangan, menjaga saluran air di sekitar rumah, membuat area resapan, serta mengikuti informasi peringatan cuaca ketika hujan ekstrem berpotensi terjadi.

Banjir Jakarta Adalah Masalah yang Saling Berkaitan

Pertanyaan mengenai kenapa Jakarta selalu banjir tiap tahun tidak memiliki satu jawaban tunggal. Hujan deras memang menjadi pemicu, tetapi ada banyak faktor yang membuat dampaknya menjadi lebih besar. Mulai dari kondisi geografis Jakarta, banjir kiriman dari wilayah hulu, kapasitas sungai, sistem drainase, berkurangnya area resapan, perubahan tata guna lahan, sampah, penurunan muka tanah, hingga ancaman banjir rob.

BMKG pada 2025 juga menyoroti bahwa perubahan tata guna lahan di wilayah hulu, penurunan muka tanah, dan perubahan iklim merupakan faktor yang memperburuk risiko banjir.  Karena itu, banjir Jakarta sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai masalah ketika hujan datang. Persoalan ini membutuhkan penanganan jangka panjang melalui perencanaan kota yang lebih baik, perlindungan daerah resapan, pengelolaan sungai dari hulu hingga hilir, pengendalian penggunaan air tanah, serta kesiapan menghadapi perubahan iklim.

Dengan penanganan yang dilakukan secara bersama dan berkelanjutan, risiko banjir memang tidak mungkin hilang sepenuhnya. Namun, dampaknya dapat dikurangi sehingga masyarakat Jakarta tidak harus terus menghadapi persoalan yang sama setiap musim hujan.

Jika Anda ingin mendapatkan properti yang dekat dengan kawasan strategis, Ray White Kebayoran Barito hadir untuk membantu Anda. Ray White telah mempunyai pengalaman lebih dari 20 tahun dalam bidang properti. Segera hubungi Ray White Kebayoran Barito di (021) 724-1333 untuk mendapatkan berbagai penawaran properti yang sangat menarik. Miliki properti mewah dan strategis bersama Ray White Kebayoran Barito! Anda juga bisa kunjungi website Ray White Kebayoran Barito dihttps://kebayoranbarito.raywhite.co.id/.

Written by: Jennifer Rantelobo (Copywriter of Ray White PPC Group)

Approved by: Gisela Milenie Erjorena (Marcomm of Ray White & Loan Market PPC Group)