logo-raywhite-offcanvas

15 Jan 2026 NEWS 7 min read

Apa Itu Masa Retensi dalam Dunia Properti

Dalam industri properti, banyak istilah teknis yang mungkin terdengar cukup asing bagi masyarakat umum, terutama bagi calon pembeli rumah, penyewa, maupun pihak yang terlibat dalam ...

Dalam industri properti, banyak istilah teknis yang mungkin terdengar cukup asing bagi masyarakat umum, terutama bagi calon pembeli rumah, penyewa, maupun pihak yang terlibat dalam pembangunan proyek konstruksi. Salah satu istilah tersebut adalah masa retensi. Meski tidak sering muncul dalam pembicaraan sehari-hari, masa retensi memiliki peranan yang sangat penting dalam kontrak kerja konstruksi dan pengelolaan properti, karena berkaitan langsung dengan kualitas hasil pekerjaan dan perlindungan hak antara pemilik proyek dan kontraktor. 

Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai apa itu masa retensi, fungsinya, serta jenis-jenisnya dalam dunia properti, dengan bahasa yang mudah dipahami agar dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas bagi Anda yang mungkin sedang terlibat dalam urusan pengembangan atau transaksi properti.

Pengertian Masa Retensi dalam Properti

Masa retensi adalah periode waktu tertentu setelah pekerjaan konstruksi selesai, di mana sebagian pembayaran proyek masih ditahan oleh pemilik. Penahanan dana ini dilakukan sebagai jaminan bahwa kontraktor akan menyelesaikan seluruh pekerjaan sesuai standar yang telah disepakati, termasuk perbaikan terhadap cacat atau kerusakan yang mungkin muncul setelah proyek selesai digunakan. Dengan kata lain, masa retensi merupakan bentuk perlindungan bagi pemilik properti agar pihak kontraktor tetap bertanggung jawab terhadap kualitas bangunan meskipun proyek telah dinyatakan selesai dan diserahterimakan.

Biasanya, jumlah dana yang ditahan selama masa retensi berkisar antara 5–10% dari total nilai proyek, tergantung pada kesepakatan dalam kontrak. Masa ini berlangsung hingga jangka waktu tertentu, seperti 6 bulan hingga 2 tahun setelah serah terima bangunan. Ketentuan mengenai masa retensi umumnya tercantum dalam kontrak konstruksi dan tidak dapat diubah tanpa persetujuan seluruh pihak yang terlibat. Dengan adanya masa retensi, pemilik dapat memastikan bahwa bangunan benar-benar aman dan layak digunakan dalam jangka panjang.

Mengapa Masa Retensi Penting dalam Konstruksi Properti?

Dalam setiap proyek konstruksi, masalah teknis dapat muncul kapan saja, terutama setelah bangunan mulai digunakan secara penuh. Beberapa cacat mungkin tidak terlihat pada saat serah terima, tetapi akan muncul setelah beberapa waktu akibat penggunaan atau karena kualitas pengerjaan yang kurang baik. Misalnya, retakan pada dinding, kebocoran pada atap, instalasi listrik yang tidak aman, atau lantai yang tidak terpasang rata.

Di sinilah fungsi masa retensi menjadi sangat penting. Dana retensi menjadi bentuk “jaminan rasa aman” bagi pemilik proyek bahwa kontraktor tidak akan lepas tangan begitu saja setelah pekerjaan dianggap selesai. Kontraktor pun akan berusaha menjaga kredibilitas mereka dengan memperbaiki kerusakan yang timbul selama periode ini. Jadi, masa retensi tidak hanya memberikan perlindungan finansial bagi pemilik proyek, tetapi juga menjadi mekanisme kontrol mutu dalam dunia konstruksi.

Selain itu, masa retensi juga mendorong terjadinya komunikasi dan penyelesaian masalah yang lebih baik antara pemilik dan kontraktor. Jika terjadi permasalahan konstruksi di kemudian hari, proses klaim perbaikan sudah diatur dalam kontrak sehingga tidak menimbulkan perselisihan berkepanjangan. Tanpa masa retensi, pemilik mungkin akan menghadapi biaya tambahan besar untuk memperbaiki kerusakan yang seharusnya menjadi tanggung jawab kontraktor.

Hubungan Masa Retensi dengan Garansi Bangunan

Banyak yang sering menyamakan masa retensi dengan garansi bangunan, padahal keduanya memiliki fungsi berbeda. Masa retensi berkaitan langsung dengan perjanjian pembayaran proyek dan lebih menekankan pada kewajiban kontraktor untuk menyelesaikan serta memperbaiki cacat konstruksi yang ditemukan dalam periode tertentu setelah serah terima. Sementara itu, garansi bangunan adalah jaminan kualitas dari pengembang atau produsen terhadap material maupun struktur bangunan untuk jangka waktu yang lebih panjang, seperti 5–10 tahun.

Namun, keduanya tetap saling berkaitan dan biasanya berjalan bersama sebagai bentuk perlindungan maksimal bagi pemilik properti. Masa retensi berfokus pada fase awal pasca-konstruksi, sedangkan garansi bangunan melindungi pemilik dari masalah jangka panjang yang mungkin baru muncul setelah masa retensi berakhir. Dengan pemahaman yang tepat, pemilik proyek dapat mengoptimalisasi seluruh jaminan yang diberikan dalam kontrak untuk menjaga kualitas bangunan yang dimiliki.

Jenis-Jenis Masa Retensi dalam Dunia Properti

Dalam praktik properti dan konstruksi, masa retensi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan cara pelaksanaannya. Berikut adalah jenis-jenis masa retensi yang paling umum digunakan dalam proyek pembangunan:

  1. Retensi Berdasarkan Persentase Nilai Proyek

Jenis retensi pertama adalah yang paling sering diterapkan, yaitu penahanan dana berdasarkan persentase tertentu dari nilai proyek. Umumnya berkisar antara 5–10%, tergantung pada kompleksitas pekerjaan dan kesepakatan kontrak. Jumlah ini akan ditahan oleh pemilik proyek hingga masa retensi selesai. Ketika tidak ditemukan masalah, dana tersebut akan diberikan kepada kontraktor sebagai pembayaran akhir.

Sistem ini cukup efektif karena memberikan motivasi finansial bagi kontraktor untuk bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya. Semakin baik kualitas pekerjaan yang dilakukan, semakin cepat mereka akan menerima sisa pembayaran proyek.

  1. Retensi Dua Tahap (Two-Stage Retention)

Dalam beberapa proyek dengan skala besar dan durasi pembangunan panjang, sistem retensi dua tahap sering digunakan untuk efektivitas pengawasan mutu. Pada tahap pertama, sebagian dana retensi akan dibayarkan setelah pekerjaan selesai dan proses serah terima awal dilakukan (Practical Completion). Sementara itu, sisa dana akan tetap ditahan hingga masa retensi berakhir dan seluruh masalah yang mungkin muncul telah diselesaikan.

Sistem ini memberikan keseimbilan dalam pembayaran sehingga kontraktor tetap memiliki arus kas yang sehat sambil tetap diwajibkan untuk menjaga kualitas bangunan hingga benar-benar siap digunakan secara penuh. Pemilik proyek pun merasa aman karena masih memiliki dana jaminan yang cukup apabila perbaikan lanjutan diperlukan.

  1. Retensi Berbasis Kinerja (Performance-Based Retention)

Jenis retensi ini tidak hanya berfokus pada penyelesaian fisik bangunan, tetapi juga pada kinerja bangunan dalam jangka pendek setelah digunakan. Retensi berbasis kinerja biasanya diterapkan pada proyek yang memiliki komponen instalasi mekanikal dan elektrikal yang kompleks, seperti sistem HVAC, lift, atau fasilitas publik lainnya.

Jika saat masa retensi berlangsung ternyata sistem tidak bekerja sesuai spesifikasi misalnya AC tidak mampu mendinginkan ruangan sesuai standar maka kontraktor wajib memperbaikinya sebelum dana retensi tersebut dicairkan. Jenis ini semakin populer karena lebih menekankan kualitas fungsional daripada sekadar penyelesaian fisik bangunan.

  1. Retensi Tanpa Penahanan Dana (Retention Bond)

Beberapa kontraktor mungkin tidak ingin pembayaran mereka ditahan dalam jumlah besar, terutama jika proyek bernilai tinggi dan membutuhkan cash flow yang stabil. Dalam situasi seperti ini, kontraktor dapat mengajukan retention bond, yaitu jaminan dari pihak ketiga seperti perusahaan asuransi atau bank.

Dengan retention bond, pemilik proyek tetap memiliki jaminan penyelesaian pekerjaan, sementara kontraktor tetap menerima pembayaran penuh tanpa dana ditahan. Namun, biaya untuk mendapatkan retention bond biasanya menjadi tanggung jawab kontraktor, sehingga tidak selalu menjadi pilihan utama dalam proyek beranggaran ketat.

Risiko Tanpa Masa Retensi, Apa yang Bisa Terjadi?

Jika sebuah proyek konstruksi tidak menerapkan masa retensi, pemilik properti berisiko menanggung sendiri biaya perbaikan setelah bangunan digunakan. Kerusakan ringan hingga berat yang disebabkan oleh kesalahan konstruksi atau material yang tidak sesuai standar akan menjadi beban finansial bagi pemilik.

Selain itu, pemilik mungkin kehilangan kekuatan hukum untuk meminta kontraktor kembali dan menyelesaikan pekerjaan yang belum sempurna. Situasi ini dapat memicu konflik dan bahkan berujung pada jalur hukum yang memakan waktu dan biaya besar. Karena alasan inilah masa retensi menjadi salah satu ketentuan penting dalam kontrak konstruksi modern.

Contoh Penerapan Masa Retensi pada Proyek Properti di Indonesia

Dalam proyek rumah tapak, apartemen, hingga gedung komersial di Indonesia, masa retensi telah menjadi bagian standar kontrak kerja. Misalnya, sebuah pembangunan rumah cluster mungkin memiliki masa retensi selama 6–12 bulan setelah serah terima. Jika dalam masa tersebut pemilik rumah menemukan kerusakan seperti kebocoran atap atau retak dinding, pengembang atau kontraktor wajib memperbaikinya tanpa biaya tambahan.

Pada proyek besar seperti pusat perbelanjaan atau gedung kantor, sistem retensi dua tahap atau retention bond bisa diterapkan. Hal ini memungkinkan pengawasan kualitas yang lebih terstruktur sambil mendukung keberlangsungan finansial kontraktor.

Masa retensi adalah periode penting dalam dunia properti yang memberikan jaminan kualitas kepada pemilik bangunan setelah pekerjaan konstruksi selesai. Selama periode ini, sebagian pembayaran proyek ditahan untuk memastikan kontraktor tetap bertanggung jawab terhadap perbaikan cacat bangunan. Jenis-jenis masa retensi pun bervariasi, mulai dari retensi berbasis persentase, dua tahap, berbasis kinerja, hingga tanpa penahanan dana melalui retention bond.

Dengan memahami fungsi dan mekanisme masa retensi, pemilik proyek dapat melindungi diri dari potensi kerugian akibat kesalahan konstruksi, sementara kontraktor tetap termotivasi untuk memberikan hasil pengerjaan terbaik. Pada akhirnya, penerapan masa retensi yang tepat akan menguntungkan semua pihak dan menciptakan kualitas bangunan yang lebih baik untuk jangka panjang.

Jika Anda sedang mencari properti yang aman, nyaman dan berada di lokasi strategis,  Anda bisa jatuhkan pilihan ke Ray White CBD Jakarta. Ray White CBD Jakarta hadir untuk membantu Anda berikan solusi properti terbaik. Ray White telah mempunyai pengalaman lebih dari 20 tahun dalam bidang properti. Dapatkan informasi lebih lanjut di website Ray White CBD Jakarta di https://cbdjakarta.raywhite.co.id/. Find a home that suits your lifestyle with Ray White!

Written by: Jennifer Rantelobo (Copywriter of Ray White PPC Group)

Approved by: Cynthia Natalia William (Marcomm of Ray White & Loan Market PPC Group)